TERJAMIN WA +62 858-5946-5858 Ziarah Wali Songo Di Jawa Tengah Sunan Muria Kudus
Sunday, October 28, 2018
Info Ziarah Wali Songo,
Travel Ziarah Wali Songo Kota Sby Jawa Timur,
Ziarah Wali Songo Di Jawa Tengah,
Ziarah Wali Songo Jawa Barat,
Ziarah Wali Songo Jawa Timur
Edit
TERJAMIN WA +62
858-5946-5858 Ziarah Wali Songo Di Jawa Tengah Sunan Muria Kudus

Travel Ziarah Wali songo Kota Sby Jawa Timur Indonesia, Info
Ziarah Wali Songo, Ziarah Wali Songo Jawa Barat, Travel Ziarah Wali Songo Kota
Sby Jawa Timur, Ziarah Wali Songo Jawa Timur, Ziarah Wali Songo Di Jawa Tengah,
Ziarah Wali Songo Jawa Barat
Bagi orang islam yang ingin tour wisata religi ziarah wali songo
khususnya di daerah Kudus Jawa Tengah yaitu ke Makam Sunan Muria, bisa hubungi
kami Fun Wisata Kreatif. Fun Wisata Kreatif memberikan harga
terjangkau dan bervariasi menyesuaikan dengan transportasi bus dan fasilitas
yang ingin digunakan dan juga jumlah peserta yang ikut. Kami juga
melayani Jual Paket Wisata Ziarah
Wali Songo, Paket Wisata Religi Wali Songo, dan juga Sewa Bus Ziarah Wali
Songo
Ziarah ke Makam Sunan Muria di Kudus Jawa
Tengah, Tempat Wisata Terindah di Kabupaten Kudus Jawa Tengah ada dua buah
makam Walisongo yang sangat terkenal, yaitu Makam Sunan Kudus dan Makam Sunan
Muria. Kedua makam ini banyak dikunjungi oleh masyarakat baik warga Kudus
sendiri maupun masyarakat diluar Kudus. Makam Sunan Muria setiap harinya banyak
dikunjungi oleh para peziarah. Namun akan lebih ramai lagi pada hari Kamis Wage
karena pada hari itu dipercaya sebagai hari neton Sunan Muria. Makam Sunan
Muria merupakan makam yang cukup unik karena berlokasi di lereng Gunung Muria.
Akses ke lokasi makam lumayan berat karena berada di puncak sebuah bukut. Untuk
sampai ke lokasi makam, anda harus menempuh perjalanan yang naik turun.
Namun anda jangan khawatir karena disini banyak sekali ojek yang siap
mengantarkan anda ke lokasi Makam. Biaya ojek di Makam Sunan Muria tidak lah
mahal, yaitu sekitar Rp. 8000 sekali jalan, itu sudah diantar sampai ke lokasi
Makam.
Makam Sunan Muria terletak di lereng Gunung
Muria di Kabupaten Kudus Jawa Tengah atau tepatnya beralamat di Desa Colo
Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Dari Terminal Kudus, anda dapat naik angkutan
kota yang langsung menuju ke Muria, yaitu jurusan Colo.
Di sekitar Makam Sunan Muria, anda juga dapat
menikmati berbagai produk asli dari warga sekitar, yaitu misalnya kopi, pisang
byar, jeruk pamelo, rambutan, durian dll. Namun produk yang bisa dibilang unik
adalah buah parijoto. Parijoto merupakan buah asli Gunung Muria. Masyarakat
setempat percaya bahwa seorang ibu yang sedang mengandung apabila memakan buah
parijoto maka anak yang dilahirkan akan apabila perempuan maka akan menjadi
cantik dan apabila laki-laki maka akan memiliki wajah yang tampan. Cantik dan
tampan ini masih simpang siur apakah dalam arti fisik maupun perangainya. Ya,
namanya juga mitos yang berkembang di masyarakat, khususnya di seputar Makam
Sunan Muria.
Selain itu anda juga menikmati sajian kuliner
yang sangat menarik, yaitu pecel pakis Colo. Pakis merupakan tanaman khas
pegunungan yang dimanfaatkan oleh warga sekitar menjadi masakan yang enak.
Ngomong ngomong mengenai Sunan Muria, Nama
asli dari Sunan Muria adalah Raden Umar Said atau Raden Said. Menurut beberapa
riwayat, Raden Said adalah putra dari Sunan Kalijaga hasil pernikahan beliau
dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngandung. Raden Said dikenal sebagai Sunan
Muria karena beliau dimakamkan di Gunung Muria, yaitu sebuah gunung yang berada
di perbatasan Kabupaten Kudus, Jepara dan Pati. Sunan Muria merupakan salah
satu penyebar agama Uslam di Pulau Jawa bersama sembilan Sunan lainnya yang
lebih dikenal dengan sebutan Walisongo.
Sasaran dakwah dari Sunan Muria adalah para pedagang, nelayan,
pelaut dan rakyat jelata. Beliau adalah satu-atunya wali yang tetap
mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk
menyampaikan islam. Dan, Beliau juga yang telah menciptakan berbagai tembang
jawa. Tempat dakwahnya berada di sekitar gunung muria, kemudian dakwahnya
diperlua meliputi Tayu, Juwana, kudus, dan lereng gunung muria. Beliau dikenal
dengan sebutan sunan muria karena tinggal di gunung muria.
Sunan Muria adalah wali yang terkenal memiliki kesaktian. Beliau
memiliki fisik yang kuat karena sering naik turun gunung muria yang tingginya sekitar
750 meter. Bayangkan, jika Beliau dan istrinya atau muridnya harus naik turun
gunung setiap hari untuk menyebarkan agama islam kepada penduduk setempat, atau
berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hak itu tidak
dapat dilakukannya tenpa fisik yang kuat.
Bukti bahwa Sunan Muria adalah guru yang sakti mandraguna dapat
ditemukan dalam kisah perkawinan Sunan Murida dengan Dewi Roroyono. Dewi
Roroyono adalah putri Ngerang, yaitu seorang ulama yang disegani masyarakat
karena ketinggian ilmunya, yang bertempat tinggal di juana, pati jawa tengah.
Demikian sakti Sunan Ngerang sehingga Sunan Muria dan Sunan Kudus sampai
berguru kepadanya.
Dalam cerita Sunan Muria, pada suatu hari,
Sunan Ngerang mengadakan syukuran atas usia Dewi Roroyono yang telah genap dua
puluh tahun. Semua muridnya diundang, seperti Sunan Muria, Sunan Kudus, Adipati
Pathak Warak, Kapa dan adiknya Gentiri. Tetangga dekat juga diundang, demikian
pula sanak saudara yang dari jauh. Setelah tamu berkumpul, Dewi Roroyono dan
adiknya, Dewi Roro Pujiwati, keluar menghidangkan makanan dan minuman. Keduanya
adalah para dara yang cantik rupawan, terutama Dewi Roroyono yang berusia dua
puluh tahun. Ia bagaikan bunga yang sedang mekar.
Bagi Sunan Kudus dan Sunan Muria yang sudah berbekal ilmu agama,
dapat menahan pandangan mata, sehingga mereka tidak terseret oleh godaan setan.
Tapi, seorang murid Sunan Ngerang yang lain, yaitu Adipati Pathak Warak
memandang Dewi Royoyono dengan mata tidak berkedip karena melihat kecantikan
gadis itu.
Sewaktu menjadi cantrik atau murid Sunan Ngerang ketika Pathak
Warak belum menjadi adipati, Dewi Roroyono masih kecil dan kecantikannya yang
mempesona belum tampak. Tetapi, sekarang, gadis itu sangat membuat Adipati
Pathak Warak tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu
terus menerus. Akibat dibakar api asmara yang menggelora, ia tidak tahan lagi.
Ia pun menggoda Dewi Roroyono dengan berbagai ucapan yang tidak pantas, bahkan
bertindak kurang ajar.
Tentu saja, Dewi merasa malu sekali, terutama ketika Adipati
Pathak Warak berlaku kurang ajar dengan memegangi bagian tubuhnya yang tidak
pantas disentuh. Si gadis pun naik pitam, sehingga nampan berisi minuman yang
dibawahnya sengaja ditumpahkan ke pakaian Sang Adipati. Maka Adipati Pathak
Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi
ia pun semakin malu karena melihat para tamu menetawakan kekonyolan.
Dewi Roroyono hampir saja ditampar oleh Adipati Pathak Warak
kalau ia tidak ingat bahwa gadis itu adalah putri gurunya. Lalu, Dewi Rorooyono
masuk ke dalam kamarnya, gadis itu menangis sejadi-jadinya karena dipermalukan
oleh Pathak Warak. Pada malam hari, para tamu yang rumahnya dekat sudah pulang
ke tempat masing-masing. Adapun tamu yang datang dari jauh terpaksa menginap di
rumah Sunan Ngerang, termasuk Pathak Warak dan Sunan Muria. Namun, Pathak Warak
belum dapat memejamkan matanya hingga lewat tengah malam. Kemudian, ia bangkit
dari tidurnya dan mengendap-ngedap ke kamar Dewi Roroyono.
Dewi Roroyono dibius sehingga tak sadarkan diri, kemudian Pathak
Warak turun melewati genteng dan mebawanya lari menuruni jendela. Dewi Roroyono
dibawa lari ke Mandalika, wilayah Keling atau Kediri. Setelah Sunan Ngerang
mengetahui bahwa putrinya diculik oleh Pathak Warak, maka ia berikrar bahwa
orang yang berhasil membawa putrinya bila perempuan akan dijadikan saudara Dewi
Roroyono. Dan jika laki-laki akan dijodohkan dengan putrinya.
Tak ada seorang pun yang menyatakan kesanggupannya. Sebab, semua
orang telah maklum akan kehebatan dan kekejaman Pathak Warak. Hanya Sunan Muria
yang bersedia memenuhi harapan Sunan Ngerang.
“saya akan berusaha mengambil Diajeng Roroyono dari tangan Pathak Warak.” kata Sunan Muria.
“saya akan berusaha mengambil Diajeng Roroyono dari tangan Pathak Warak.” kata Sunan Muria.
Di tengah perjalanan, Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri, adik seperguruan, yang lebih dahulu pulang sebelum acara syukuran berakhir. Keduanya merasa heran melihat Sunan Muria berlari cepat menuju ke arah daerah Keling.
“Mengapa kakang tampak tergesa-gesa?” tanya Kapa.
Sunan Muria pun menceritakan penculikan Dewi Roroyono yang dilakukan oleh Pathak Warak. Kapa dan Gentiri sangat menghormati Sunan Muria sebagai saudara seperguruan yang lebih tua. Lantas, keduanya menyatakan diri untuk membantu Sunan Muria merebut kembali Dewi Roroyono.
“Sebaiknya, kakang pulang ke padepokan gunung Muria. Para murid sangat membutuhkan bimbingan kakang. Biarlah kami yang berusaha merebut diajeng Roroyono kembali. Kalau berhasil, kakang tetap berhak menikahnya, kami hanya membantu,” kata Kapa.
“Aku masih sanggup merebutnya sendiri,” ujar Sunan Muria.
“Itu benar, tapi, membimbing orang memperdalam agama islam juga lebih penting, percalah, kami pasti sanggup merebutnya kembali” kata Kapa bersikeras. Akhirnya, Sunan Muria mengambulkan permintaan adik seperguruannya. Beliau merasa tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula, Beliau harus menengok para santrinya di padepokan gunung Muria.
Untuk merebut Dewi Roroyono dari tangan pathak warak, ternyata
Kapa dan Gentiri meminta bantuan seorang wiku lodhang di pulau Sprapat yang
dikenal sebagai tokoh sakti dan tidak ada tandingannya. Dan usaha mereka
akhirnya berhasil sehingga Dewi Roroyono dikembalikan kepada Sunan Ngerang.
Hari berikutnya, Sunan Muria hendak pergi menghadap Sunan Ngerang untuk
mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri. Di tengah perjalanan, Beliau
bertemu dengan Adipati Pathak Warak.
“Hai Pahtak Warak, berhenti kamu” bentak Sunan Muria
Patahak Warak yang sedang naik kuda terpaksa berhenti karena Sunan Muria menghadang di depannya.
“Minggie, jangan menghalangi jalanku!” Hantak Pathak Warak
“Boleh asal kamu kebalikan Dewo Roroyono”
“Bodoh ! Roroyono sudah di bawa Kapa dan Gentiri! Kini aku hendak mengejar mereka!” umpat Pathak Warak.
“Untuk apa kamu mengejar mereka?” tanya Sunan Muria kepada Pathak Warak. “Merebutnya kembali” jawab Pathak Warak dengan sengit.
“Kalau begitu langkahi dulu mayatku, Roroyono telah dijodohkan denganku!” ujar Sunan Muria sambil pasang kuda-kuda.
Tanpa basa basi maka Pathak Warak melompat dari punggung kuda. Ia menyerang Sunan Muria dengan jurus cakar harimau. Tapi, ia bukan tandingan putra Sunan Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian. Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak telah jatuh atau roboh di tanah. Seluruh kesaktiannya lenyap, bahkan ia menjadi lumpuh dan tidak mampu untuk berdiri apalagi berjalan.
Sunan Muria pun meneruskan perjalanan ke juana. Kedatangannya disambut gembira oleh Sunan Ngerang. Sebab, Kapa dan Gentiri telah bercerita secara jujur bahwa mereka sendiri yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria mencari Roroyono. Pada akhirnya, Sunan Ngerang menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria.
Upacara pernikahan pun segera dilaksanakan. Kapa dan Gentiri berjasa besar diberi hadiah tanah di desa buntar. Dengan hadiah itu keduanya menjadi orang kaya yang kehidupan mereka serba kecukupan. Sementara itu, Sunan Muria segera memboyong istrinya ke padepokan gunung Muria. Mereka hidup bahagia karena merupakan pasangan ideal.
Tidak demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi Roroyono dari Keling ke Ngarang, agaknya mereka terlanjur terpesona oleh kecantikan wanita jelita itu. Siang dan malam, mereka tidak dapat tidur. Wajah wanita itu senantiasa terbayang. Namun, wanita itu sudah diperistri kakak seperguruannya sehingga mereka tidak dapat berbuat apapun.
Hanya penyesalan yang menghujan di dada mereka. Mengapa dulu
mereka terburu-buru menawarkan jasa baik mereka? Betapa enaknya Sunan Muria
sekarang tanpa bersusah payah, ia telah menikmati kebahagiaan bersama gadis
yang mereka dambakan. Inilah hikmah ajaran agama agar lelaki diharuskan menahan
pandangan mata dan menjaga kehormatan mereka. Adai kata Kapa dan Gentiri tidak
menatap terus ke arah wajah Dewi Roroyono yang indah, mereka pasti tidak akan
terpesona dan tidak terjerat oleh iblis yang memasang perangkat pada pandangan
mata.
Kini, Kapa dan Gentiri telah dirasuki iblis. Mereka bertekad
hendak merebut Dewi Roroyono dari tangan Sunan Muria. Mereka telah sepakat
untuk menjadikanya sebagai istri kedua secara bergiliran. Sungguh keji rencana
mereka. Gentiri berangkat terlebih dulu ke gunung Muria. Namun ketika ia hendak
melaksanakan niatnya, justru kepergok oleh para murid sunan muria sehingga
terjadi pertempuran dahsyat. Suasana menjadi panas ketika Sunan Muria keluar
menghapati Gentiri. Akhirnya, Gentiri tewas menemui ajalnya di puncak gunung
Muria.
Kematian Gentiri cepat tersebar ke berbagai daerah. Tapi, berita
itu tidak membuat surut niat Kapa. Sebab, Kapa cukup cerdik sehingga ia datang
ke gunung Muria secara diam-diam di malam hari. Tak seorang pun yang
mengetahuinya. Pada saat itu, kebetulan Sunan Muria dan beberapa murid
pilihannya sedang bepergian ke Demak Bintoro. Kapa membius para murid Sunan
Muria yang berilmu rendah yang ditugaskan menjaga Dewi Roroyono, kemudian Kapa
menculik dan membawa wanita impiannya ke pulau Sprapat dengan mudah.
Pada saat yang sama, Sunan Muria bermaksud mengadakan kunjungan
kepada Wiku Lodhang Datuk di pulau Sprapat sepulang dari Demak Bintoro. Ini
biasa dilakukannya, yakni bersahabat dengan pemeluk agama lain. Dan, itu
bukanlah suatu dosa, terlebih lagi sang wiku pernah menolongnya merebut Dewi
Roroyono dari pihak Pathak Warak.
Seperti ajaran Sunan Kalijaga yang mampu hidup berdampingan
dengan pemeluk agama lain dalam suatu negeri. Sunan Muria pun menunjukkan
akhlak islam yang mulia dan agung. Sunan muria bukan berdebat tentang perbedaan
agama itu. Dengan menerapkan akhlak yang mulia itu, banyak pemeluk agama lain
yang akhirnya tertarik dan masuk islam secara suka rela. Sementara itu,
kedatangan kapa ke pulau sprapat ternyata tidak disambut baik oleh Wiku Lodhang
Datuk.
Memalukan, benar benar nista perbuatanmu itu, cepat kembalikan
istri kakanda seperguruanmu! Hardik Wiku Lodhang Datuk dengan marah.
“bagaimana bapak guru ini? Bukankah aku ini adalah muridmu? Mengapa kamu tidak membelaku? Protes Kapa.
“Apa? Membela perbuatan durjana?” bentak Wiku Lodhank Datuk
“sampai mati pun, aku tak akan sudi membela kebejatan budi pekerti, walaupun pelakunya itu muridku sendiri!” katanya
“bagaimana bapak guru ini? Bukankah aku ini adalah muridmu? Mengapa kamu tidak membelaku? Protes Kapa.
“Apa? Membela perbuatan durjana?” bentak Wiku Lodhank Datuk
“sampai mati pun, aku tak akan sudi membela kebejatan budi pekerti, walaupun pelakunya itu muridku sendiri!” katanya
Perdebatan antara guru dan murid tersebut berlangsung lama.
Tanpa mereka sadari, ternyata Sunan Muria sudah sampai di tempat itu. Betapa
terkejut ketika Sunan Muria melihat istrinya sedang tergolek di tangah dengan
kaki dan tangan terikat. Sementara itu, beliau juga melihat Kapa sedang
bertengkar dengan gurunya yaitu Wiku Lodhang Datuk. Lalu, Wiku Loadhang
melangkah menuju Dewi Roroyono untuk membebaskannya dari belenggu yang
dilakukan oleh Kapa.
Ketika sang Wiku selesai membuka tali yang mengikat tubuh Dewi
Roroyono, tiba tiba terdengar jeritan keras dari mulut Kapa secara bersamaan.
Ternyata serangan yang dilakukan Kapa dengan mengerahkan aji kesaktian berbalik
menghantam dirinya sendiri. Itula ilmu yang dimiliki Sunan Muria. Beliau mampu
mengembalikan serangan lawan. Sebab, Kapa mempergunakan aji pamungkas, yaitu
puncak kesaktian yang dimilikinya, maka ilmu itu akhirnya merengut nyawanya
sendiri.
“Maafkan saya Tuan Wiki,” Sunan Muria agak menyesal.
“Tidak apa apa, ia sudah sepantasnya menerima hukuman ini. Aku sangat menyesal karena telah memberikan ilmu kepadanya. Ternyata ilmu itu digunakan untuk jalan kejahatan,” gumam sang Wiku.
“Tidak apa apa, ia sudah sepantasnya menerima hukuman ini. Aku sangat menyesal karena telah memberikan ilmu kepadanya. Ternyata ilmu itu digunakan untuk jalan kejahatan,” gumam sang Wiku.
Dengan langkah gontai, sang Wiku mengangkat jenazah muridnya.
Kapa adalah muridnya apaun yang terjadi. Pantaslah, kalau ia menguburkannya
secara layak. Pada akhirnya, dewi roroyono dan sunan muria kembali ke padepokan
dan hidup berbahagia.
Seperti itu lah kisah beliau Sunan Muria. Makamnya banyak
dikunjungi orang-orang muslim dari berbagai penjuru. Jika ingin berkunjunng
kemakam beliau, anda bisa menggunakan jasa Fun Wisata Kreatif bisa menghubungi
lewat no HP yang sudah tertera di atas.
Website
Google Maps
#tourziarahwalisongo
#paketwisataziarahwalisongo2019 #wisatareligiziarahwalisongo
#jualpaketwisataziarahwalisongo #paketwisatareligiwalisongo
#sewabusziarahwalisongo #paketwisataziarahwalisongodarijakarta
#paketwisataziarahwalisongodarilampung
#paketwisataziarahwalisongodaribanjarmasin #busziarahwalisongo
#buspariwisataziarahwalisongo #backpackerziarahwalisongo
#daftartempatziarahwalisongo #hargasewabusziarahwalisongo
0 Response to "TERJAMIN WA +62 858-5946-5858 Ziarah Wali Songo Di Jawa Tengah Sunan Muria Kudus"
Post a Comment